Home > kanker payudara, Penyakit Payudara, Tentang Payudara > Ductal Carcinoma In Situ (DCIS)

Ductal Carcinoma In Situ (DCIS)

March 10th, 2009

duduk-pegang-kakiRekan semua, pada tulisan sebelumnya, saya telah uraikan kanker non-invasif yang berkembang dalam kelenjar susu yang disebut Lobular Carcinoma In Situ (LCIS). Pada tulisan kali ini, saya akan mengupas tentang satu jenis lain dari kanker payudara non invasif lainnya. Kanker ini tumbuh berkembang dalam saluran susu dan disebut Ductal Carcinoma In Situ (DCIS). Apa saja tanda dan gejalanya? Diagnosa dan penanganannya? Yuk kita simak bersama…

Merupakan tipe kanker payudara non-invasif yang paling umum terjadi, DCIS seringkali terdeteksi pada mammogram sebagai microcalcifications (tumpukan kalsium dalam jumlah kecil). Dengan deteksi dini, rerata tingkat bertahan hidup penderita DCIS mencapai hampir 100%, dengan catatan, kanker tidak menyebar dari saluran susu ke jaringan lemak payudara dan bagian lain dari tubuh. Terdapat beberapa tipe DCIS. Sebagai contoh, ductal comedocarcinoma, yang merujuk pada DCIS dengan necrosis (area dengan sel kanker yang mati atau mengalami degenerasi).

Ductal carcinoma in situ (DCIS) adalah sebuah kondisi yang muncul dalam beberapa bentuk. Dan kesamannya adalah terdapat perubahan sel di sepanjang saluran susu. Di bawah mikroskop, saluran yang normal terdiri satu lapis sel, tapi pada DCIS, terdapat lebih banyak sel. Terkadang sel-sel tersebut memenuhi saluran, seperti terlihat pada gambar di bawah ini. Pada beberapa wanita DCIS ditemukan hanya pada beberapa saluran susu, tetapi pada wanita yang lain, diketahui menyerang hampir seluruh system saluran susu yang ada di payudara.

dcis1

Ductal carcinoma in situ, juga disebut intraductal cancer, merujuk pada sel kanker yang telah terbentuk dalam saluran dan belum menyebar. Saluran menjadi tersumbat dan membesar seiring bertambahnya sel kanker di dalamnya. Kalsium cenderung terkumpul dalam saluran yang tersumbat dan terlihat dalam mamografi sebagai kalsifikasi terkluster atau tak beraturan (clustered or irregular calcifications) atau disebut kalsifikasi mikro (microcalcifications) pada hasil mammogram seorang wanita tanpa gejala kanker.

DCIS dapat menyebabkan keluarnya cairan puting atau munculnya massa yang secara jelas terlihat atau dirasakan, dan terlihat pada momografi. DCIS kadang ditemukan dengan tidak sengaja saat dokter melakukan biopsy tumor jinak. Sekitar 20%-30% kejadian kanker payudara ditemukan saat dilakukan mamografi. Jika diabaikan dan tidak ditangani, DCIS dapat menjadi kanker invasif dengan potensi penyebaran ke seluruh tubuh.

DCIS muncul dengan dua tipe sel yang berbeda, dimana salah satu sel cenderung lebih invasif dari tipe satunya. Tipe pertama, dengan perkembangan lebih lambat, terlihat lebih kecil dibandingkan sel normal. Sel ini disebut solid, papillary atau cribiform. Tipe kedua, disebut comedeonecrosis, sering bersifat progresif di awal perkembangannya, terlihat sebagai sel yang lebih besar dengan bentuk tak beraturan. Karena berkembang dengan cepat, sel ini cenderung butuh gula dan oksigen yang lebih banyak.

Meski tidak dikategorikan sebagai kanker karena masih bersifat “in situ”, namun bila kondisi ini dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, kemungkinan menyebar dapat terjadi, dan akhirnya menjadi “kanker-invasif sungguhan”. Kita tidak dapat memprediksi hal tersebut kapan terjadi. Karenanya, penanganan DCIS haruslah sangat cermat, tepat, dan bagus, agar hasilnya juga bagus, khususnya untuk mencegah munculnya kanker payudara invasif.

Diagnosis dan Penanganan Ductal Carcinoma In Situ
Seiring semakin dikenalnya mammografi, DCIS lebih sering ditemukan dibandingkan di masa lalu. Semakin jarang wanita yang didiagnosis DCIS setelah mereka menemukan benjolan ataupun perubahan lain payudara seperti keluarnya cairan dari puting.

DCIS sering terlihat sebagai satu pola kalsifikasi (penumpukan kalsium) mikro dalam hasil mammogram. Meski bentuk dan ukuran kalsifikasi yang ada diduga sebagai DCIS oleh ahli radiology, pemeriksaan lebih lanjut masih diperlukan. Biasanya dokter akan menyarankan pasien melakukan core needle biopsy, dengan mengambil sedikit jaringan dengan jarum, dibawah pengaruh bius lokal. Contoh jaringan tersebut kemudian dikirim ke ahli patologi. Diagnosis juga dapat dilakukan dengan biopsy operasi terbuka.

Pengobatan DCIS bergantung dari kondisi tiap wanita. Penanganan yang sering dilakukan adalah mengangkat area DCIS dengan sedikit jaringan disekitarnya yang belum terserang. Selanjutnya, pengobatan secara radiologi disarankan untuk mematikan sel kanker yang diduga masih tersisa. Namun, terapi radiasi ini memiliki efek samping yang harus dipahami oleh setiap pasien sebelum melakukannya.

Setelah operasi pengangkatan sempurna dilaksanakan, dengan atau tanpa terapi radiasi, tetap ada risiko munculnya kembali DCIS. Kadang tetap bersifat “in situ”, namun tidak jarang justru menjadi kanker payudara yang bersifat invasif ( menyebar ke jaringan di luar saluran susu).

Untuk beberapa wanita, dokter menganjurkan untuk menjalani mastektomi (pengangkatan payudara yang terserang DCIS). Tidak ada penanganan lebih lanjut setelah mastektomi, dan risiko ke depan terkena kanker payudara juga hanya berkisar satu persen. Payudara yang sehat harus diperiksakan secara teratur dengan mamografi dan uji fisik.

Tindak lanjut
Setelah anda menjalani pengobatan DCIS, anda mungkin akan disarankan untuk lebih sering melakukan mammogram dan uji fisik secara reguler dari sebelumnya. Dokter juga akan menyarankan anda untuk lebih perhatian kepada setiap perubahan yang terjadi pada payudara.

Terapi tamoxifen akan disarankan setelah DCIS terdiagnosis dan diobati. Tablet ini harus dikonsumsi selama 5 tahun. Tamoxifen telah terbukti memiliki peran dalam menangani kanker payudara invasif, dan sekarang ada uji klinis yang mengidikasikan tamoxifen dapat mengobati DCIS.

Terapi Sulih Hormon
Wanita yang didiagnosis mengidap DCIS mungkin juga harus berpikir tentang terapi sulih hormon atau hormone replacement therapy (HRT), jika mereka mendapat DCIS saat menopause. Meski risikonya belum jelas, manfaat HRT dapat dirasakan wanita yang menjalaninya. Jika ada ingin melakukan HRT, diskusikan kondisi anda dengan dokter anda. Khususnya, tentang dosis, lama waktu terapi, juga persiapan yang akan membantu mengatasi masalah yang muncul saat menopause.

Sumber :

http://www.cancervic.org.au

<>
Comments are closed.